" So...Prophet Yunus AS walking along the beach.....and without he realized it, somehow he got deeper and deeper into the water . And then..suddenly a Big Black hole appeared in front of him. And then Whoop....he was gulped inside by this big creature, without he had a chance to do something. He was rolling..and rolling all over, and many times his head bumped into something sometime soft, sometime hard .And then after a couple minutes he realized he didn't moved anymore. Everyhing was black around him and this unbearable smell, it stink , it smellllyyyy.... He felt something oozy , gushy, yucky , gowey thing around him, but he didn't know what was that .Eyy....".
Lalu sebagian anak-anak yang berpura-pura menjadi Ikan Paus Besar alias Big Whale , merentangkan tangannya lebar-lebar, lalu sibuk mengejar-ngejar berusaha menangkap dan "menelan " beberapa anak lainnya yang berpura-pura menjadi Nabi Yunus AS . Kelas jadi ramai dan bising. Tapi setelah semua " Nabi Yunus AS " tertangkap dan "ditelan " , ceritapun dilanjutkan lagi.
Kalau anda pernah jadi guru anak-anak Amerika seusia 8 - 11 tahun , pasti anda juga pernah merasa frustasi.
Karena anak-anak ini yang dibesarkan dengan budaya "Creative Approaches " dimana semua materi yang ada dibuat untuk merangsang daya kreativitas anak . Akibatnya aktivitas belajar mengajar harus menarik dan pergantian kegiatannya harus dalam tempo cepat. Kadang bagi yang tidak terbiasa mengajar, bisa frustasi. Karena kalau materinya tidak menarik, anak-anak bakal gelisah dan lalu sibuk sendiri-sendiri.
Tantangannya bisa dobel-dobel , kalau suasana ini terjadi di kelas-kelas Sunday School atau kelas -kelas Madrasah Mingguan. Karena sebagian besar dari mereka tahu, kalaupun mereka berbuat aneh-aneh, tidak mungkin bakalan dipanggil ke kantor Kepala Sekolah atau mendapat hukuman skorsing dan lain-lain. Juga karena materinya banyak pelajaran agama Islam, yang sering tidak "challenged enough " untuk mereka.
Frustasi itu yang juga sering saya rasakan. Berpengalaman mengajar bahkan sempat menjadi Kepala Sekolah di madrasah IMAAM selama 3 tahun lebih , tidak membuat saya selalu percaya diri saat mengajar anak-anak ini. Apalagi sering jumlah mereka sampai 20 anak, dan karena kadang guru lainnya tidak masuk, jadi harus ditangani sendiri. Belum lagi ada beberapa anak yang memang tidak mau datang ke Madrasah, tapi selalu dipaksa orangtuanya. Anak-anak ini , yang kalau sudah bosan, lalu sibuk sendiri di belakang kelas , dengan game-game elektroniknya. Malah kadang mereka membawa mobil-mobilan, lalu main sendiri di belakang kelas , dan pelan-pelan anak-anak laki-laki lainnya bergabung.
Atau sering tiba-tiba mereka keluar kelas. Alasannya mau ke kamar mandi, tapi lalu tidak kembali-kembali. Kalau sudah begini, biar gurunya teriak-teriak, jangan harap anak-anak ini akan mendengarkan. Paling mereka duduk sebentar, lalu sibuk lagi mencari kegiatan lain. Lalu tiba-tiba, berkata ," Boring...boring...I don't like your teaching ". Duh..kalau tidak tahu trik-trik mengajar, bisa menangis sang guru atau kalau tidak menyerah dan lalu tidak mau datang lagi.
Ini sudah terjadi beberapa kali, banyak guru volunteer yang terbiasa dengan didikan ala ajar mengajar di Indonesia, lalu tidak tahan dan tidak mau lagi mengajar. Apalagi banyak guru-guru volunteer ini sebagian tidak punya pengalaman mengajar di sini.
Sudah setahun ini saya tidak lagi mengajar kelas tetap seperti dulu. Karena kesibukan bisnis, dan lain-lain. Tapi saya masih paling tidak tiap 2 minggu menyempatkan muncul, karena anak-anak saya memang masih tiap Minggu kesana. Jadi saat datang, guru kelas II masih sering minta bantuan saya bercerita kepada anak-anak. Terutama cerita-cerita nabi -nabi . Karena bercerita memang butuh keahlian tersendiri, berbeda dengan mengajar Islamic Knowledge yang bisa dibaca dari buku pengantar.
Setelah bereksperimentasi dengan berbagai teknik, akhirnya saya temukan teknik terbaik agar anak-anak mau mendengarkan bahkan mengingat poin-poin penting dari cerita Nabi-nabi ini. Yaitu dengan cara melibatkan mereka dalam cerita. Jadi mereka bukan hanya duduk manis mendengar, tapi sering kali mereka dilibatkan dalam bentuk aksi yang berupa gabungan antara olah gerak , gambar atau suara. Dan sang guru juga harus bisa beraksi seperti di teater, dengan gerakan tangan, gerakan badan , emosi, perubahan raut muka dan lain-lain.
Seperti cerita nabi Yunus AS di atas. Setelah ber "oozy, gushy , yucky , gowey thing " dengan ekspresi agak jijik
( menggambarkan suasana dalam perut ikan paus ) , dan gerakan tangan seolah-olah mau menepis sesuatu, lalu aksi berikutnya ya seperti di atas. Alias membuat drama dadakan, kejar-kejaran di dalam kelas. Namun efeknya setelah 10 menit, mereka siap lagi mendengarkan cerita lanjutannya , dan siap lagi bereksperimen dengan gerakan.
Pernah membayangkan apa yang mesti dilakukan saat harus bercerita tentang Nabi Sulaeman AS mengundang Ratu Sheba / Ratu Balqis dan tahta kerajaannya yang terkenal itu. Semua anak perempuan saya minta berpura-pura menjadi Ratu Balqis, lalu semua berpura-pura mengangkat ujung roknya dan berpura-pura melangkah pelan-pelan di lantai kaca, yang Ratu Balqis kira adalah permukaan air. Sementara beberapa anak-anak laki-laki berpura-pura menjadi Nabi Sulayman AS , memperhatikan dari jauh sambil bersedekap kedua tangan di dada mereka masing-masing. Lalu sebagian anak lainnya berpura-pura menjadi burung Hud Hud , bertengger di atas pohon , melihat kejadian ini dari jauh. Believe me this approaches worked..it worked....lalu kami semua sama-sama tertawa, melihat gaya mereka yang lucu-lucu.
Cerita Nabi Nuh AS saat diterapkan di " teater dadakan " jadi lebih lucu lagi. Anak-anak berpura-pura menjadi binatang-binatang sepasang-sepasang. Ada yang mau berpasangan, ada yang tidak. Gaya mereka menirukan monyet, beruang, gajah bahkan belalang lucu-lucu. Sang sutradara alias saya jadi sering lupa memberi komando, gara-gara tertawa terus-terusan. Apalagi setelah cerita dilanjutkan dan mereka harus menirukan orang-orang yang tenggelam di dalam air bah ini, wah ..jadi heboh. Ada yang sampai terbatuk-batuk gara-gara menahan nafas terlalu lama. 
Ada sekitar 12 cerita Nabi yang saya ceritakan selama setahun ini. Minggu kemarin adalah hari terakhir saya bercerita. Saya coba mengulang ingatan anak-anak ini, dan persis seperti dugaan saya, poin - poin yang diingat anak-anak dari masing-masing Nabi adalah justru poin-poin di mana mereka terlibat beraksi.
"Prophet Adam AS". " Oh..oh...that snake gurgling around..., Khuldi..khuldi like apel ..., the clay ..( saya bawa sedikit tanah liat saat cerita ini ) ...Shaitannnn...( sebagian mendelik-delik berusaha mengekspresikan wajah Shaitan..) ..Siti Hawa is so beautiful...they falling down to the earth ( sambil membandingkan seperti rasa "jatuh " saat naik RollerCoster ) ".
"Prophet Musa AS " ." Oh.oh..that Prince of Egypt...the Nile river...The King killed all the babies ...The basket on the river...The beautiful Queen took it.... Musa touched the hot coal , it was so hot..hot....Musa killed the guard...Musa run..run ( saat saya cerita ini mereka saya suruh berpura-pura lari-lari ketakutan ) ....".
No wonder everytime I was done with the class, I was so tired . It only took 1 to 1 1/2 hour...but the energy was so draining .
Reston, May 2005

Note : semoga berguna untuk rekan-rekan lainnya. 