My Place Where You Could Find A Lot of Love

Blog EntryMenghitung Hujan........May 20, '05 4:04 PM
for everyone

Gericik menderas meluncuri jalanan.  Menghitung langkah yang tergesa menjejaki jalanan Rossyln, pagi ini.  Dingin yang tak ramah, merambati punggung menggeliat merembesi baju katun putihku.  Putihnya,  membuatmu selalu teringat pada kembang-kembang Cherry yang lelah berguguran sepanjang danau Tidal Basin,  di akhir April.

Tapak-tapak trotoar yang kujejaki,  pecah di ujung sepatuku.  Percikan air tergenang lalu tertampar,  mengagetkan perempuan tua yang sedang duduk merenungi bis-bis yang melaju liar.  Mata marahnya menerobos lingkaran payung yang kugenggam.  Serapah kesalnya menyeberangi jalanan yang licin. " Ah ..nenek...,  takkah kau lihat hujan juga tergenang di sudut mataku.  Deras menggelincir menghilangkan sisa-sisa bedak di pipiku yang basah . Bulan-bulan lalu, ada tangan lain yang selalu menggenggamkan payung untukku.  Ah..nenek, takkah  kau lihat jemariku gemetar tak biasa menahankan hembusan angin yang kencang ".

Tapak-tapak trotoar yang kujejaki,  pecah lagi di ujung sepatuku.  Masih ada 2 ruas jalan lagi yang harus kulangkahi dalam sendu yang kian mengkristal.  Masih ada beberapa tempat lagi,  tempat kita biasa menghitung hujan,  harus kulintasi.  Masih ada lagi titisan panjang ,  jalan-jalan beku,  yang harus kuselami kedalamannya.  Tanpamu,  sahabat.....

Tetesan air hujan makin menggemuruh menyelisip masuk meremukkan hati. Menggapai sisa-sisa kesadaran yang tak mau mengakui kehilanganmu.  Merentangkan penyesalan yang bersanding dengan kepedihan.  Perih, menggigit, merejam kejam.

Pintu ruangan tempat kita selalu bersama sudah di ujung perjalananku.  Perlahan, kubuka dengan pandangan sayu, pintu kaca yang selalu menjadi  saksi janji - janji kita dengan pantulannya yang malu-malu . Dan berharap kau ada berdiri di sana seperti biasanya, dengan senyuman berbinar-binar yang membuat jengah matahari.  Dengan pandangan mata yang jernihnya melabuhkan pesona kehijauan rumput-rumput basah. Dengan kehangatan suara berkidung tanya bagaimana khabarku hari itu .

Tapi, seperti sudah sebulan ini, harapanku bagai titik embun menggelepar di panas matahari, menghilang tanpa bekas ke titian udara pagi. Tak ada kau, dan senyum mataharimu, dan sinar mata hijaumu, dan kidung suaramu yang hangat, berdiri disana. Tak ada kau, sahabat, di balik pintu kaca itu.

Yang ada hanya  jarak ribuan kilometer memisahkan mimpi-mimpi yang pernah terucap. Yang ada hanya seribu perbedaan kata Tuhan , yang merentangkan jarak makin panjang antara dua hati. Yang ada hanya kesadaran akan perbedaan, antara jilbab panjangku dan pertanyaanmu terus menerus , mengapa kau tak boleh memasang tiara penuh kembang mawar di rambutku yang hitam.

Kulangkahkan kaki mengitari ruangan-ruangan kantor yang bisu berdinding kelabu,  sambil berusaha menghindari semarak tawa dan canda yang bertebaran di tiap wajah yang kulewati. Menundukkan wajah sedalam dada, sambil meremas ujung tas mungil merah jingga hadiah kecil darimu. Tergesa kututup rapat pintu kamar kerjaku, seperti rapatnya hatimu yang tak sudi mengalah menjembatani perbedaan.

Duduk sendiri di meja ini, berusaha menemukan kembali irama kehidupan yang bait-baitnya sudah menghilang sebulan ini. Merangkai lagi kekuatan untuk berdiri tegak dan mengatur nafas , mengejar kehidupan yang pernah kumiliki sebelum kau datang dalam hidupku. " Ahhhh.....tapi mengapa nafasku masih tetap sesak, deburan dada masih tak sanggup melampaui batas-batas waktu ".

Bayangan saat-saat akhir perbedaan kata di antara kita, antara Tuhanku dan Tuhanmu yang berbeda cinta, antara kain sutra penutup rambutku dan harapanmu tentang angin segar yang seharusnya menyelisip di antara bunga-bunga yang kau letakkan di kehitaman rambutku, antara ketidaksabaranmu saat menunggui aku  bercerita pada Tuhanku di shalat-shalatku dan cerita-cerita surga neraka yang kubagi padamu lalu kau anggap lucu tak bermakna. 

Kepedihan di gelap mataku dan desah kecewaku , kau selesaikan dengan ,"Mari menantang badai, berkejaran berlomba menyentuh sinar matahari yang melebur dengan mimpi kita berdua, toh Tuhan hanya ucapan manis di bibir merah. Biarkan agama yang berbeda jadi saksi suatu peradaban sekeras karang yang tegar menghentak gelombang . Toh Tuhanku dan Tuhanmu pasti menutup mata dengan kekuatan cinta kita ".

Kalau saja karang tegar mengerti dan tahu diri, bahwa ombaklah yang membawa kesejukan di panas matahari, membasuhnya perlahan dengan riak lembut dan  memecah putih berbuih. Begitu lama ombak mencoba menyapa karang dengan irama yang berbeda. Irama Alif-Ba-Ta-Tsa dan salam Al Qur'an , saat nyiur melambaikan tangan memanggil angin agar mendinginkan karang.

Lalu ketika kukatakan bagaimana menikmati keindahan dalam ragu, bagaimana menggulirkan mimpi dalam penjara nurani , bagaimana berkhayal diantara tajamnya duri-duri rasa bersalah bersiap menusuk imajinasi.

" Ahhhh.....tapi mengapa nafasku masih tetap sesak, deburan dada masih tak sanggup melampaui batas-batas waktu ".

Mata marahmu dingin bagai malam padang pasir , menghujam diam membisu , saat kukatakan aku mencintai Tuhanku dengan kesadaran sedalam samudera. Dan mencoba mengertiNya dalam kalimat-kalimat Tauhid yang meremas batin yang begitu rapuh.

Mata marahmu dingin bagai malam padang pasir , lalu gelora gelombang api mengayunmu pergi dari sisiku. Mengangkatmu pergi ribuan kilometer terbawa gemuruh kekerasan hatimu. Meninggalkan hati yang kelu pecah berserakan kepingnya. Daku terpaku sendiri dalam sepi.

Gericik air masih menderas meluncuri jalanan, di luar sana. Kucoba menghitung hujan, sendiri dalam kesenduan yang membungkam perasaan. Ragu memenuhi bilik kalbu, ada ribuan pertanyaan tentang kebenaran melilit benakku.

Sahabat, kau bukan lagi milikku, bukan tempat aku melabuhkan cemas, bukan tempat aku menyimpan mimpi di urat nadimu.

Sahabat, kurelakan jejak langkahmu mengikuti angin pagi  yang  berputaran di ujung gelombang. Bergegas pergi mengelilingi dunia. Toh , Tuhanku dan Tuhanmu selalu berbeda.

" Ahhhh.....tapi mengapa nafasku masih tetap sesak, deburan dada masih tak sanggup melampaui batas-batas waktu ".

                                        ------+++-----

Lalu tiba-tiba deringan di telpon selulerku dan barisan kata-kata terpampang di layar pesan, membuatku terkejut :

" Ah,  seandainya waktu berpihak,  maukah kau terima kata maafku  yang selama ini telah tertunda,  dari ujung lidah yang selalu kelu tak mampu mengucapkannya. Mari menyamakan langkah, dan mari berbincang tentang Tuhan kita yang sama. Aku rindu menghitung hujan...pagi ini disana, denganmu kekasih ".

------------------------------------------------------------------

 

Dwitra Zaky , Mei 2005 ,  Reston..eh, di kantor Rossyln, pas lagi suntuk iseng ngelamun di depan komputer, terus mau buat cerpen...e..digangguin teman-teman, jadi aja cerpennya terpotong...ntar dilanjut lagi ah... 

Juni 2005, udah nih...akhirnya jadi cerpen juga. Horeee... 

 



dialogkecil wrote on May 20, '05
Diterusin dong Mbak, jadi cerpen gitu. Pembukanya udah bagus tuh.
dwitrazaky wrote on May 26, '05
Iya ya..dijadiin cerpen aja gitu...pas tengah-tengah digangguin teman-teman kerja..jadi aja nggak mood lagi..insya Allah deh saya lanjutin..hmmm..enaknya terusannya gimana ya...
iwan95 wrote on Jun 2, '05
Diterusin dong Mbak, jadi cerpen gitu. Pembukanya udah bagus tuh.
Iya bener :) kok gak diterusin sih? :)
dialogkecil wrote on Jun 2, '05
Bagus Mbak. Usul: karena udah jadi cerpen, judulnya Menghitung Hujan aja. Dikirim dong Mbak, yang cocok kali republika ya. Cerpen koran 6-10 hlm 2 spasi.
dwitrazaky wrote on Jun 2, '05
Bagus Mbak. Usul: karena udah jadi cerpen, judulnya Menghitung Hujan aja. Dikirim dong Mbak, yang cocok kali republika ya. Cerpen koran 6-10 hlm 2 spasi.
Terimakasih mbak Sofie..iya nih..jadinya nulis melulu, dikirim juga nggak...
Insya Allah deh saya coba kirim....
dwitrazaky wrote on Jun 2, '05
iwan95 said
Iya bener :) kok gak diterusin sih? :)
Udah..mas Iwan...akhirnya jadi juga...moodnya datang tengah malam, selesainyapun tengah malam.
ummujib wrote on Jun 2, '05
Bagus Mbak. Usul: karena udah jadi cerpen, judulnya Menghitung Hujan aja. Dikirim dong Mbak, yang cocok kali republika ya. Cerpen koran 6-10 hlm 2 spasi.
Mbak Sofie, cerpen dimana yang requirementnya enggak banyak2, cuma 4-6 halaman dan Islami dan anak2. he..he..he
mindalibaert wrote on Aug 19, '05
Bagus mbak, ditunggu kelanjutan nya.
Add a Comment
   

Gold Account

Quotes of The Day

-FAITH TEACHES US TO EXPECT THE BEST, PREPARE THE WORST AND CELEBRATE ALL THE WAY

-YOUR REACH MUST BE BEYOND YOUR GRASP, IF NOT WHAT'S THE HEAVEN FOR


Things That Happening This Week on My Life
Vote for my pictures, plzzzz, for the sake of street kids

this link" Angel on Her Path "
Angel on her path...' /



Myspace Graphics
People asked me, Why ...?

myspace layouts, myspace codes, glitter graphics
My Music This Week

click this link to hear
my song playlist this week
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help