My Place Where You Could Find A Lot of Love

Blog EntryKetika Saya Belajar dari CatherineAug 12, '05 11:49 AM
for everyone

Majalah Alia, edisi September 2005.

Sebulan ini saya punya murid baru. Suami istri, namanya Catherine dan Greg ( bukan nama aslinya, yang maaf tidak bisa dipajang disini ). Umur mereka sekitar 50-an, tapi dua-duanya masih terlihat sangat muda, walau sudah punya 3 anak laki-laki yang sudah dewasa. Malah mereka sudah punya cucu.

Sang suami, Greg akan bekerja di Indonesia mulai tahun depan, dan akan menduduki jabatan cukup penting. Jadi tugas saya selama hampir 6- 7 bulan ke depan,adalah mengajari mereka tentang bahasa Indonesia, kebudayaan Indonesia dan mungkin sedikit tentang Islam dan politik Indonesia ( walau yang terakhir biasanya hanya ngeprint banyak artikel doang, lalu dibahas bareng-bareng , ehm...jadi nggak terlalu tentang muatan politiknya ya ).

Mereka berdua sangat ramah dan sederhana. Kadang tidak  terbayang bahwa suatu saat sang suami bakal punya posisi penting. Karena gaya dan pembawaan mereka sehari-hari sangat biasa-biasa saja, berbeda jauh kalau dibandingkan dengan gaya banyak pejabat Indonesia yang saya kenal. Mungkin itu bedanya ya antara orang-orang Amerika dan Indonesia. Kecuali jabatannya betul-betul sangat tinggi atau dalam tingkatan Mentri atau Direktur IMF , baru gayanya berbeda sedikit. Tapi kalau jabatannya masih di bawah itu, dalam keseharian mereka biasanya sangat sederhana.

Seperti contohnya mereka berdua pergi ke sekolah bahasa kami dengan Metro / kereta api dalam kota. Kalau mereka mau jalan-jalan setelah kelas selesai, mereka pergi kemana-mana dengan Metro juga. Atau disambung dengan bis kota. Lalu pakaian mereka juga sederhana, Catherine sang istri malah sering hanya bersandal tutup atau bersepatu keds . Mereka juga membawa sendiri makan siang dan makanan kecil dari rumah.

Tapi bukan itu saja yang membuat saya banyak belajar dari Catherine. Ada hal-hal lainnya yang sering membuat saya trenyuh dan kadang tergugu, tidak bisa berkomentar lebih lanjut.

Setelah hampir 1 minggu mereka berada di kelas saya, suatu hari Catherine bertanya tentang suatu hal pada saya. Dia bertanya bagaimana sih makanan-makanan Indonesia itu. Selain spicy, apakah juga banyak menggunakan bahan sayuran dan buah-buahan?. Saya jawab ya, karena di Indonesia daging atau ayam masih termasuk mahal. Lalu dia bertanya lagi, untuk dessert atau main course, apakah banyak menggunakan tepung ?. Kalau iya, tepung apa yang dipakai ?. Saya agak kebingungan juga ditanya seperti itu, kenapa yang ditanya malah tepungnya. Lalu saya jawab saja, tidak selalu, dan tepung yang dipakai adalah kalau tidak tepung terigu atau tepung beras.

Dia tampak senang saat tahu bahwa banyak makanan Indonesia juga menggunakan bahan dasar tepung beras. Saya tanya lagi kenapa ?. Dia bilang 2 malam lagi, mereka diundang ke rumah seorang pejabat Indonesia di KBRI untuk makan malam. Lalu dia menambahkan lagi, ternyata dia tidak bisa makan segala macam makanan yang mengandung tepung terigu atau wheat. Sudah 2 tahun terakhir ini dia divonis oleh dokter menderita semacam " sensitivity toward food products made from wheat or any flour made from wheat-kind plants except rice / Gluten intolerance ".

Dia bilang juga bahwa setiap dia makan makanan yang mengandung tepung terigu -- walau hanya sedikit atau hanya karena alat-alat masaknya bekas masakan yang mengandung terigu,  -- usus kecilnya akan luka-luka, dan segala macam bakteri akan masuk ke aliran darahnya. Lalu kalau hal ini terjadi , dia akan sakit parah. Bahkan  3 tahun lalu, selama setahun lebih dia jadi " tahanan rumah ", karena kondisinya yang sangat lemah. Keluar sedikit , terkena udara luar langsung sakit lagi.  Itu terjadi sebelum dokternya tahu bahwa dia menderita sakit ini. Karena memang penyakit ini tidak timbul langsung, tapi gejalanya pelan-pelan, dan biasanya baru setelah beberapa lama ketahuan, saat kondisi pasien makin buruk.

Itu sebabnya sekarang dia sangat hati-hati kalau mau makan makanan macam-macam. Semua makanan yang dia makan hanya bisa  Gluten free. Bahkan dia harus tahu juga proses pembuatan makanan itu. Dan ternyata, setelah diskusi dengan para ahli nutrisi dan  searching  di internet, dia juga baru tahu bahwa produk saus-sausan macam ketchup / saos tomat, dan soy sauce / kecap asin atau kecap Indonesia -pun menggunakan bahan tepung sebagai pengental. Juga minuman macam Diet Pepsi mengandung bekas-bekas Gluten dalam proses pembuatannya. Sedemikian rupa bahkan coklatpun harus jelas proses pembuatannya. Kalau dalam proses tersebut walau si coklat tidak mengandung Gluten, tapi bila sebelumnya alat-alat pembuatnya bekas pembuatan produk lainnya yang mengandung Gluten dan tidak dicuci bersih, dia masih bisa sakit.

Sejak tahu punya penyakit itu, akhirnya mereka jadi "terpaksa " menjalani kehidupan lebih sehat.Banyak makan sayuran dan buah-buahan, hampir tidak pernah lagi makan di restoran-restoran, kalau beli makanan dilihat betul ingredient-nya dan lain-lain. Pokoknya repot betul.Yang paling repot katanya adalah kalau diundang ke rumah-rumah teman-teman mereka atau ada undangan dinner yang berkaitan dengan tugas suaminya. Katanya sambil senyum-senyum, dia harus makan hanya buah-buahan saja atau salad. Atau kadang dia ambil beberapa makanan, dan disisihkan di piringnya tanpa dimakan. Lalu nanti di rumah baru makan banyak-banyak lagi, karena sering pesta-pesta seperti ini membuatnya kelaparan.

Pantas saja beberapa kali tiap saya membawa kue-kue lalu saya tawarkan, dia menolak dengan halus. Saya fikir tadinya sudah kenyang, tapi ternyata karena dia punya kelainan ini.

Tapi walaupun begitu, waktu saya tanya, susah tidak punya kelainan seperti itu, setelah sebelumnya bisa makan apa saja dan suka-suka.

Dia bilang sambil tersenyum," Tidak, lama kelamaan kamu akan terbiasa. Sayang hidup yang  indah ini, kalau untuk hal-hal yang kecil seperti itu saja, membuat kamu kebingungan dan susah. Tuhan masih cinta pada saya, nyatanya saya hanya mendapat penyakit seperti ini. Saya hanya harus mengatur makanan saya dan nyatanya saya bisa dan hidup saya berjalan terus dan saya bahagia. Sekarang saya malah hidup lebih sehat. Apa susahnya sih menghindari makanan-makanan itu, kamu hanya butuh disiplin saja ".

Jawabannya membuat saya tercenung. Begitu jauh attitude-nya dibanding saya yang kadang masih suka mengeluh, saat bepergian jauh kemana-mana dan sukar menemukan makanan halal . Kalau saya masih mungkin bisa saja cheating / berpura-pura lupa pada Tuhan saya , tapi Catherine tidak mungkin , karena nanti tubuhnya pasti menolak. Saya masih sering malas membaca ingredient / bahan dasar suatu makanan, apalagi kalau belanja banyak puluhan barang dan tergesa-gesa dan anak-anak sering sudah ribut minta pulang. Paling-paling saya hanya berusaha supaya tidak ada yang terbuat dari gelatin atau segala macam olahan pork itu masuk  ke belanjaan saya.Padahal seperti Catherine bilang, yang saya butuhkan hanya planning / perencanaan dan kesadaran untuk disiplin.

Mungkin kalau Allah SWT juga membuat para umatnya yang Muslim jadi seperti Catherine , dimana  setiap kita makan makanan yang tidak jelas dan tidak halal , lalu sakit berat . Baru deh kita bersibuk-sibuk punya perencanaan dan sabar serta disiplin membaca semua ingredient atau sangat hati-hati membeli / menyiapkan makanan



lelakibiasa wrote on Aug 23, '05
Belajar dari Murid sendiri nich ceritanya :)
Add a Comment
   

Gold Account

Quotes of The Day

-FAITH TEACHES US TO EXPECT THE BEST, PREPARE THE WORST AND CELEBRATE ALL THE WAY

-YOUR REACH MUST BE BEYOND YOUR GRASP, IF NOT WHAT'S THE HEAVEN FOR


Things That Happening This Week on My Life
Vote for my pictures, plzzzz, for the sake of street kids

this link" Angel on Her Path "
Angel on her path...' /



Myspace Graphics
People asked me, Why ...?

myspace layouts, myspace codes, glitter graphics
My Music This Week

click this link to hear
my song playlist this week
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help