Majalah Alia edisi Lebaran 2005.
Kembang Edelweiss yang Pertama dan Terakhir
Edelweiss...
Edelweiss..
Every morning you greet me
Small and white, clean and bright
You look happy to meet me
Blossom of snow
May you bloom and grow
Bloom and grow forever...
Edelweiss...
Edelweiss...
Bless my homeland forever...
Small and white, clean and bright
You look happy to meet me
Blossom of snow
May you bloom and grow
Bloom and grow forever
Edelweiss...
Edelweiss...
Bless my homeland forever.
Denting halus petikan gitar, melatarbelakangi suara lembut sang penyanyi lagu “Edelweiss “ ini. Menyeruak mengisi jiwa, memenuhi hati yang begitu penuh dengan rasa, menyelisir kembali kenangan yang tertinggal, 12 tahun lalu.
Pelan-pelan mataku menyelusuri ruang tamu kecil, tempat kami tinggal, di pojok Reston, Virginia. Di ujung ruangan, di atas sebuah piano yang warna kayu mahoganinya menguasai ruangan, ada sebuah vas bunga merah tua. Berdiri sendiri, melangut di tengah-tengah jejeran piring-piring biru. Di dalamnya, ada rangkaian saksi bisu sebuah cinta yang tak pernah lekang hingga kini. Rangkaian bunga Edelweiss yang sudah kering kecoklatan. Tanda bukti cinta, yang selalu kubawa, melintasi benua, melangkahi lautan. Kembang Edelweiss yang pertama dan terakhir.
--++--
Belasan tahun lalu.
Dulu sekali ada sebuah mimpi yang selalu kupendam. Mimpi tentang segenggam bunga cantik berwarna putih mungil kebiruan. Kembang abadi yang kesederhanaannya bagai kecintaan matahari pada gunung-gunung. Yang indahnya bagai kelembutan tetesan embun pagi hari pada rumput-rumput hijau gemerlap. Mimpi yang kubawa kemana-mana, mimpi memiliki kembang-kembang Edelweiss yang tak pernah bisa kudapat dan kunikmati aslinya hingga saat itu.
Cinta Edelweissku bermula dari teman-teman sesama pendaki gunung. Cerita-cerita kecil di sela-sela perjalanan-perjalanan melelahkan di puncak-puncak mendaki. Obrolan-obrolan pendek diantara gemeretak ranting-ranting kayu api unggun yang terbakar, di tengah malam gulita dan diterangi pendaran rembulan. Celoteh-celoteh singkat di antara kabut pagi yang menggumpal dan wangi rumput basah di awal hari.
Cerita-cerita, obrolan-obrolan dan celoteh-celoteh tentang indahnya kembang-kembang Edelweiss putih. Cinta Edelweissku makin mengental seiring dengan waktu yang kian panjang.
Tapi entah kenapa, tak juga kubisa mendapat atau sekedar memiliki sekuntum dua kuntum bunga-bunga mungil ini. Selalu saja ada cerita di balik cerita yang meredam mimpi. Selalu saja ada jalan melingkar yang tak pernah berujung, yang menghalangi langkah. Walau sudah kucoba berbagai cara mendapatkan si kembang putih, namun kehadirannya tak juga mengisi kedua tangan yang lelah mencari ini. Atau mungkin karena kembang penawar mimpi yang kuminta, mestinya datang dari tempat khusus seperti gunung Semeru atau Bromo. Ah, hati yang tak mau diajak kompromi.
Dari minta bantuan sesama teman-teman pendaki gunung, yang akan berangkat pergi ke pendakian-pendakian panjang. Atau menitip pesan pada adik-adik sepupu, yang juga sering bersembunyi di balik kabut-kabut gunung Semeru atau Bromo. Tapi rupanya sang waktu belum berpihak pada diri. Tak jua datang kembang-kembang peneduh harapan yang sudah terlalu lama kering. Namun tingginya sang gunung dan sulitnya menempuh perjalanan, membuat mimpi hanya tinggal angan-angan.
Lama-lama mimpi makin mencair, cinta Edelweissku mulai sirna saat waktu bertambah tua. Hari-hari bertambah panjang, suara-suara makin berbeda bunyinya. Geliat kehidupan menuntut warna lain yang penuh corak. Sudah lepas pula aku dari dunia mimpi saat mahasiswa. Ada tantangan baru yang menanti.
Tugas yang kujalani sebagai Manajer Teknik di sebuah perusahaan Teknik Lingkungan, membuatku lupa. Lupa akan wanginya rumput kena hujan, lupa akan kabut dini hari merayap perlahan, lupa akan lembutnya sentuhan angin pagi di permulaan hari. Lupa akan diri yang pernah berjanji sehidup semati dengan ibunda pertiwi. Yang ada kini hanya bau tanah kering meranggas di lokasi-lokasi proyek, panas membakar dari matahari yang marah, celoteh kasar pekerja lapangan di sela sumpah serapah.
Maret – April 1993.
Hingga suatu saat, saat perusahaan kami membutuhkan seorang tenaga tambahan Insinyur Tehnik muda yang cukup berpengalaman. Saat itu yang terlintas di benak, hanya nama seorang rekan sekelas di SMA 3 Bandung, yang sudah lama tak kujumpa. Yang untungnya masih tinggal di kota yang sama, Bandung tercinta.
Singkat cerita, sang rekan mau membantu di tengah tugas-tugasnya di ITB. Jadilah kami sibuk bolak-balik mengumpulkan data, menguji hasil, membicarakan kerja. Di antara panas matahari di lapangan, di antara bau keringat para pekerja proyek, di antara satu deadline ke deadline lainnya, diantara tumpukan gambar-gambar penuh angka. Namun di sela-selanya ada hati yang saling mencari, ada matanya yang bersinar malu saat tertangkap basah memandangiku, ada kelembutan yang ditawarkannya saat mengambilkan segelas minuman dingin, ada rasa terlindungi saat diantarkan pulang malam-malam dari rapat-rapat yang tak pernah selesai. Ada sejuta rasa yang saling berusaha menemukan, tapi keangkuhan diri membuatku malu mengakui.
Hingga suatu hari, sahabatku ini meminta ijin pergi jauh selama seminggu. Ada ujian Bela Diri yang harus diikutinya, di ujung lain pulau Jawa ini. Dia juga bertanya, apakah kira-kira kepergiannya itu akan mengganggu jalannya pekerjaan yang sudah hampir selesai. Ah, sahabat tentu saja tidak. Ada banyak orang yang bisa aku mintai tolong untuk menyelesaikan semua itu. Tapi, hati yang tertinggal ini, siapa yang akan mengobati kerinduannya ?. Bila kangen menggumpal , kemana daku mesti mencairkannya ?.
Seminggu berlalu, detik-detik begitu lamban mengalir. Jarum jam rasanya tak lagi bersahabat dengan hati. Ingin daku terbang melintasi batas kota, menyusul sahabat jauh di ujung pulau. Namun rasa malu dan segan, membuatku berusaha berkonsentrasi pada pekerjaan dan angka-angka yang makin mengabur. Bahkan saat telepon berdering dari si dia, cepat-cepat pembicaraan kualihkan pada detil dan kemajuan pekerjaan yang belum juga selesai. Tak mau aku terbaca olehnya dentang debar jiwa yang bergemuruh.
Minggu, 2 Mei 1993.
Kami berjanji bertemu hari ini. Ada seorang rekan lain yang akan mengadakan reuni teman-teman sekelas saat SMA. Karena kami pernah sekelas, sahabatku ini menawariku untuk pergi bersama. Tentu saja kuiyakan, bukankah ini kesempatan untuk bersama lagi. Walau mungkin salah, tapi hati ini lagi-lagi tak mau diajak kompromi.
Waktu berlalu, matahari sudah di ujung kepala. Adhan Dzhuhur sudah nyaring berkumandang. Sahabat yang ditunggu, tak juga muncul. Lelah menunggu, segera kutunaikan shalat berjamaah dengan adikku. Saat berdzhikir setelah selesai shalat, tiba-tiba teriakan adikku laki-laki si bungsu nyaring mengagetkan keheningan. Ternyata, sahabatku itu sudah beberapa lama menunggu di raung tamu bawah rumah kami.
Dengan tergesa, kurapihkan baju dan rambut , dan kupoleskan lipstik tipis sekedar penambah cahaya.
Langkahku pelan menuruni tangga dari ruang atas. Sambil berdebar, namun juga ragu dan malu. Apa yang harus kukatakan, setelah seminggu lebih tak bertemu ?.
Namun begitu masuk ke kamar tamu, ada rasa kaget dan terkejut. Bagaimana tidak, sahabat yang lama ditunggu-tunggu, sedang tertidur pulas di sofa besar. Nafas lelahnya terayun-ayun naik turun mendekap dadanya. Matanya yang biasanya lembut, tertutup rapat menghantar lelap.
Ah, tapi lihatlah di genggaman tangannya yang terkulai di ujung sofa . Ada sekumpulan bunga-bunga putih kecil kebiruan, banyak sekali, memenuhi kepalan tangannya. Bunga-bunga mungil yang kecantikan sederhananya memuai mengisi ruangan yang kini terasa sesak. Sesak oleh rasa haru yang membuncah-buncah. Penuh oleh rasa bahagia yang tumpah menggenangi hati. Edelweiss, kali ini Edelweiss yang asli, mimpi kembang yang sudah belasan kilometer melintasi harapan.Kini 2 cinta dan 2 mimpi bergabung bersatu menyegarkan kepenatan jiwa yang selama ini lara.
Perlahan, tetes mata haru menggelincir tak permisi di pipi basah. Ah, hatiku yang tak mau diajak kompromi. Ada kedamaian yang menjanjikan keabadian. Ada kepastian tempat berlabuh rasa lelah dan penat.
Masih sibuk aku menghapus tetesan air mata, saat sahabat tercinta bangun dari lelap tidurnya. Sambil malu-malu, menyapa dan minta maaf, tidur tanpa permisi di kamar tamu anak dara. Ah, sahabat, mintalah maaf sejuta kali, hati ini sejuta kali pula memaafkanmu. Ah, sahabat, darimana kau tahu mimpi-mimpiku yang tak pernah terlontar lewat kata.
Hari itu, 2 Mei 1993, ada dua hati yang menjadi satu. Seia sekata hingga tanah merah memisahkan kami.
2 bulan kemudian, 19 Juli 1993 , ada janji menyambung hari-hari baru yang insya Allah Mawaddah, Rahmah dan Sakinah.
---+++---
Akhir Juli 2005.
Di Reston, Virginia, di ruang tamu rumahku , ada sebuah vas bunga merah tua. Berdiri sendiri, melangut di tengah-tengah jejeran piring-piring biru. Di dalamnya, ada rangkaian saksi bisu sebuah cinta yang tak pernah lekang hingga kini. Rangkaian bunga Edelweiss yang sudah kering kecoklatan. Tanda bukti cinta, yang selalu kubawa, melintasi benua, melangkahi lautan. Kembang Edelweiss yang pertama dan terakhir.
Di Reston, Virginia, di sofa di ruang tamu rumahku, ada seorang lelaki yang digelayuti 2 gadis cilik yang kemayu. Lelaki itu sibuk menjawabi dengan sabar pertanyaan-pertanyaan kedua gadis cilik itu, yang dengan cerewetnya bertanya tak henti. Lelaki itu, suamiku, lelaki yang pertama kali dan terakhir kali membawakan kembang Edelweiss , 12 tahun lalu.
By Dwitra Zaky,
Reston, Virginia , tengah Agustus 2005 .