Ketika Mencintaimu Sepanjang Musim
Pada Musim Semi:
Ketika gebyar wangi kembang
memenuhi bukit diujung jalan
Dan kehijauan padang menyanyikan
senandung lembut
Lalu celoteh ramai burung-burung
ceriwis membangunkan embun musim semi
Mencintaimu , merentang panjang nafas kehidupan yang baru merekah.
Pada Musim Panas:
Segarnya es serut, wangi semangka
dan dinginnya air kolam
Desah nafas malas bergulung pada pagi ,
dan jam yang berputar lambat
Hari-hari diantara debur ombak
dan bau asap iga panggang
Mencintaimu , mengulang mimpi-mimpi musim panas yang begitu cepat hilang.
Pada Musim Gugur:
Renjana serpihan daun yang melayang turun
berturutan bersahabat dengan tanah coklat
Siang berganti malam bercumbu dengan cepat
meninggalkan lazuardi yang makin menghilang
Ketika tikus tanah bergerigit meliuk-liuk
dalam lubang tanah yang makin mengeras
Mencintaimu , bertahan dalam kesadaran akan kebersamaan musim gugur
yang ada dan tiada.
Pada Musim Dingin:
Angin nakal mencengkeram butiran-butiran salju
yang berhamburan tak kenal santun
Dataran meluas putih tanpa batas dalam kepedihan
kehilangan wangi bunga yang tak juga selesai
Merengkuh kesunyian yang menggelinding
dalam keputusasaan mencari mentari
Mencintaimu , melengkapi diriku dalam perputaran musim.
Mencintaimu, begitu sederhana, begitu penuh warna.
Reston, awal musim gugur 2005.
piccture courtesy from -hossi/bilder