
Diterbitkan di Annida setahun lalu. Jadi hak tampilnya sudah selesai ya kalau sudah setahun ( he..he..kata mbak Dian, lho ). Ini cerpen pertama lagi yang saya tulis setelah hampir 15 tahun nggak menulis cerpen / cerber. Ada beberapa lagi cerpen dan cerber yang bersebaran, tapi karena belum setahun hak tampil masih di beberapa media yang bersangkutan ya.
Yang bikin heppy, tulisan perdana ini terus diulas oleh mas Joni Ariadinata. Horeeee.... http://dwitrazaky.multiply.com/journal/item/48 , jadi semangat nulis sejak itu.
Well my friends, enjoy ....
Cheerrrrrr, Dwitra Zaky 
Perempuan Yang Memeluk Malam.
" Dia gila ".
"Tidak, dia hanya perempuan kesepian yang menanti suaminya pulang dari laut ".
"Dia gila ! ".
"Tidak, dia hanya perempuan yang selalu membawakan pelita, agar suaminya tak sesat menghampiri pelabuhan".
"Tidak, dia perempuan gila. Betul-betul gila, menunggu 22 tahun lebih untuk suami yang tak pernah pulang. Dia gila !!! ".
----+++---
Malam gelap mengembang kelam. Angin terpatah-patah menghembus keras menusuki kekosongan yang pekat. Gelisirnya menyayat karang-karang diam membisu sepanjang pantai yang berkabut. Gemetarnya menggoyahkan jajaran pohon nyiur yang tinggi menjulang bisu di pasir-pasir yang membeku.
Dari balik jendela, kulihat lagi kerlipan pelita bergerak perlahan bagai kunang-kunang kecil yang kelelahan. Ah, pasti perempuan itu lagi, mengangkat tinggi pelita minyaknya berjalan terseok-seok, dengan tubuh ringkihnya menyusuri tepian pantai yang tak pernah berubah karena waktu. Tak juga berhenti barang sejenak, walau diterpa angin malam yang dinginnya menggeliat merembesi tulang.
Malam gulita ini, adalah malam keempat aku melihatnya melintasi jalan kecil di depan losmen tua ini. Dari balik kaca jendela yang cat kuning lusuhnya bagai dedaunan yang gugur terpijak, aku melihatnya berjalan tertatih-tatih dengan pelita tinggi terangkat di tangan kanannya. Kadang tubuhnya mendoyong ke kiri ke kanan tersapu angin pantai yang tak juga mau bersabar, sambil tangan kirinya memegangi erat-erat baju hangatnya yang warnanya sudah pudar dimakan waktu.
Seperti biasa, pelan-pelan dirambatinya jalanan kecil ini menuju tempat yang tampaknya sudah dikenalnya betul, ujung dermaga tua tak jauh dari losmen kecil ini. Butiran-butiran pasir tertinggal di ujung sandalnya, bekas jejaknya yang tipis meninggalkan deretan panjang perjalanan penuh luka.
Di dermaga tua itu, seperti biasanya dia akan berdiam diri dengan pelita masih terangkat tinggi, berjam-jam lamanya. Kadang disela dengan berjalan hilir mudik, membunuh waktu .Tapi tetap di tempat yang sama, di ujung dermaga tua, dengan pelita minyak berkelip-kelip dari kejauhan , di tengah kegelapan malam pantai yang pekat, di antara gelisir kejam hembusan angin yang tak pernah ramah. Berjam-jam, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Malam gulita ini, 22 tahun sudah .
" Dia gila ".
"Tidak, dia hanya perempuan kesepian yang menanti suaminya pulang dari laut ".
---+++---
Kecupan hangat di pipi memerah, di ujung pagi yang wanginya membangunkan semesta, dari kekasih hati yang akan bersiap melaut. Senyuman Kang Jaka merebak melebar memenuhi ruang. Pandangan matanya yang lembut mewarnai gubuk kami dengan keriangan pagi yang tak pernah berhenti .Tangannya yang kokoh mengangkat tinggi permata hati yang tak henti-hentinya berceloteh manja, di pelukan ayahnya. Kaki-kaki kecil mungil ananda Elang Muda menendang-nendang dada ayahnya, sambil tertawa-tawa dengan suara bayinya. Ah, pagi, sering-seringlah berkunjung kemari dan berhenti sejenak menikmati sedikit sarapan dari kumpulan hati yang bahagia.
"Dik Seruni , akang nanti melaut lagi ya. Sepertinya samudera sedang berbaik hati, berbagi buah cintanya pada kita. Akan banyak ikan yang akan terjaring, akan banyak udang yang berlomba masuk ke dalam kerambu. Alamat hutang-hutang kita pada pak Gede akan lunas sudah akhir minggu ini. Doakan saja , dan jangan lupa jemput akang dengan pelitamu dan senyum manismu pelipur segala lelah dan lara yang terbawa dari laut ".
" Jangan khawatir , kang. Ada seribu doa yang tak berhenti berlantunan dari bibir ini, ada seribu cinta yang tak berhenti kukirimkan lewat angin kembara. Ada seribu pelita yang telah kusiapkan untuk menjemput Akang besok malam ".
Lalu ketika sore menjelang, dan matahari mulai memejamkan mata setelah berjaga seharian, kang Jaka dan 2 temannya pergi melaut menyisir ombak melaju ke samudera tak berbatas. Dari depan rumah cinta biru tua, Seruni melambaikan tangan mengiringi kepergian kekasihnya, ayahanda dari Elang Muda pemilik segenap sanubari.
---+++---
Ini pagi pertama setelah kang Jaka pergi. Tapi rupanya pagi lupa menengok kami kali ini, lupa mengirimkan titipan semburat cahayanya seperti biasa. Yang ditinggalkannya hanya rasa sendu dan rasa menggigil yang menisik-nisik seluruh kepekaan diri.
Elang Muda badannya panas meninggi, menjejak-jejak kaki bayinya dengan marah dan lengkingan tangis yang tak biasa. Seribu ucapan menghibur dan tepukan sayang tak juga menenangkan tangisnya. Seruni yang kebingungan segera membawanya ke dukun bayi Mak Lantip di depan kantor Kepala Desa. Diminumkannya satu gelas ramuan entah apa, dan ditiupnya pelipis Elang Muda dengan doa-doa dari Al Qur'an yang Seruni tak mengerti artinya. Walau begitu tampaknya minuman tersebut membawa pengaruh cukup banyak pada Elang Muda. Tak lagi kaki mungilnya menendangi udara kosong. Malah dia mulai pelan-pelan terlelap memasuki dunia mimpi menghitung pelangi bersama bidadari.
Rasa lelah seharian menggendong belahan jiwa, dan berusaha menenangkannya dengan runtutan cinta , membuat kantuk dengan mudah mengambil alih diri. Tanpa terasa kegelapan yang memabukkan membawanya ke alam bawah sadar, bersanding dengan kekasih mungil di pelukan lelap melekat di dada. Lupa Seruni dengan janji sejuta pelita yang akan harus dibawa ke ujung dermaga , yang kelap-kelip cahayanya petunjuk tempat berlabuh kapal para lelaki yang kelelahan. Lupa Seruni dengan janji seribu senyuman , yang seharusnya diantarnya menjemput suami tercinta di gerbang pantai bergelombang buih.
Di luar, malam mengharu biru, ombak menerpa dan menghanyutkan pasir pantai dengan kasarnya, angin selatan menghempas buih-buih gelombang dengan marah. Badai rupanya datang tanpa diundang, menyelimuti desa kecil Seruni di ujung dermaga dengan rasa dingin mencekam . Seluruh jiwa penghuni desa sibuk merapatkan selimut menghangatkan diri tenggelam ke dalam mimpi yang berkabung.
Jauh di tengah samudera, sepotong kapal kecil mengharu biru diayun gelombang . Sosok -sosok penumpangnya berebutan berusaha menimba air yang dengan rakusnya menggenangi dek kapal.
Malam begitu gelap, pekat bersemadi .
---+++---
Ini pagi kelima aku terbangun , dalam pelukan angin laut yang menghilir masuk tanpa permisi lewat jendela yang terbuka. Wangi pasir pantai dan ceriwis burung camar mengiringi hari yang menggeliat menggoda mentari untuk mulai lagi berjaga.
Jari-jari air mengguyur deras dari pancuran, menelusup ke dalam seluruh pori-pori mengagetkan seluruh urat syaraf yang basah. Kesegaran merembes masuk ke seluruh raga, mencoba lagi membangkitkan jiwa yang lelah semalaman. Tapi rasa pedih itu tetap tertinggal, bersembunyi di ujung sanubari, berkali-kali muncul mengingatkan rasa bersalah yang terpendam dalam.
"Ah..seharusnya aku sesegera mungkin bercerita, berbagi berita yang telah dititipkan bunda padaku . Perempuan tua itu.....dan Elang Muda ".
---+++---
Dia gila ! ".
"Tidak, dia hanya perempuan yang selalu membawakan pelita, agar suaminya tak sesat menghampiri pelabuhan".
---+++---
Seperti biasa di hari kelima ini sarapan pagiku dimulai dengan sepiring nasi goreng dan 2 potong telur mata sapi. Seperti biasa, seperti 4 hari berturut-turut sebelumnya . Dengan rasa biasa, cukup pedas tapi tak sampai membakar lidah. Di tempat biasa, di kafe kecil yang bersuasana ramah dengan hiasan kerang-kerang laut di sepanjang dinding. Bersama teman makan pagi yang biasa, seorang manajer hotel bintang empat yang baru dibuka 5 bulan lalu, tak jauh dari dermaga tua.
Yang tak biasa, adalah mendengar lanjutan ceritanya yang berbeda-beda, menyambung cerita hari-hari sebelumnya. Yang tak biasa adalah nada bicaranya yang kini berbeda ketika kami mulai akrab dan dibaginya sebuah cerita rahasia kecil milik desa pantai itu.
Cerita yang penuh dengan kesenduan, penuh kepedihan cinta seorang perempuan muda yang terenggut paksa, hilang terkoyak larut dalam samudera gelap, di malam yang berbadai. Cerita cinta perempuan yang sama namun kini tak lagi muda, perempuan yang setia bertahun-tahun meniti malam dengan berbekal pelita minyak. Yang selalu sabar menunggu di ujung dermaga tua, menanti kekasih tercinta kembali dari laut.
Perempuan, yang pernah lalai menghantarkan senyum pada malam berkabut walau telah mengucap janji . Perempuan, yang terus-menerus menyalahkan dirinya, karena malam itu suami terkasihnya, Kang Jaka, tak lagi menemukan pelita petunjuk jalan, dan mungkin tersesat di pelabuhan lain. Perempuan, yang selalu percaya suatu saat nanti, kang Jakanya akan kembali dari laut, membawa kembali cinta yang selalu abadi dan janji-janji setia sehidup semati. Dan kembali dengan pelukannya yang begitu damai dan tangannya yang selalu kokoh siap mengayun manja ke udara buah hati tercinta, Elang Muda, manajer tampan yang kini duduk di hadapanku.
Yang tak biasa, adalah binar mata Elang Muda tak lagi dingin berkabut seperti saat kami pertama berkenalan. Tapi makin lama makin berbinar-binar bagai mata kang Jaka yang pendarnya mempesona setiap gadis muda. Kedalaman tatapannya masuk menyelusup kalbuku, mengantarkan isyarat lain yang membuatku takut.
Yang tak biasa adalah senyumnya yang makin sering muncul, kadang malu-malu, kadang begitu bercahaya, bagai rumput-rumput hijau di pinggiran taman kota.Yang tak biasa, adalah debar jantungku yang tak lagi mau diajak kompromi. Menggelitik menggeliat masuk keseluruh ujung-ujung urat nadi. Yang tak biasa adalah perasaan bersalah yang muncul, menarik-narik alam bawah sadarku.
---+++---
"Tidak, dia perempuan gila. Betul-betul gila, menunggu 22 tahun lebih untuk suami yang tak pernah pulang. Dia gila !!! ".
Kang Jaka memang tidak pernah pulang, dan tidak akan pernah pulang.
3 bulan lalu, hampir seluruh penduduk yang berjumlah ribuan orang di kota di seberang pulau dermaga tua ini, menghantarkannya ke peristirahatannya yang terakhir. Kang Jaka pergi dengan tenang, di pelukan istri yang telah dinikahinya hampir 21 tahun lamanya, dikelilingi dengan 3 anak gadisnya. Kang Jaka pergi dengan senyum, diiringi doa kepedihan dari seluruh warga kota, yang selama ini terpesona dengan ceramah-ceramah agamanya setiap pagi di Mesjid di pusat kota. Kang Jaka pergi dengan ikhlas, setelah mengantar dakwah tentang keindahan batin di seluruh ucapan dan gerak lakunya di hari-hari hidupnya.
Kang Jaka pergi dengan kesucian seorang Ustadz, yang dicintai seluruh orang yang bernaung dalam keindahan kata-kata , yang mengingatkan kami semua akan kebesaranNya. Atau paling tidak itu yang kami kira.
Sampai ibu Nurani istrinya, menemukan sebuah buku catatan kecil usang di tumpukan buku-buku tua di kamar kerjanya. Buku tua yang berlapis sampul kulit coklat kumuh dimakan usia. Buku tua yang berisi tulisan rapi kang Jaka , yang ternyata tetap diisinya dengan catatan-catatan kecil tiap bulan selama ini. Buku tua yang ternyata berisi tulisan cinta dan rindu penuh luka. Tulisan cinta seorang suami pada istrinya dan rindu seorang ayah pada anaknya yang tak pernah mampu dikunjunginya. Tulisan penuh marah pada kekerdilan kelelakiannya sendiri dan tulisan tentang maaf yang tak pernah berani diucapkannya. Tulisan yang penuh panggilan-panggilan sayang pada Seruni, perempuan cantik bermata rembulan dan senyuman bagai mawar yang menenangkan hati. Tentang Elang Muda, lelaki kecil yang genggaman tangannya sudah mampu membuat dadanya tergoyang perlahan saat tinju bayinya memukuli dada sang ayah. Tentang kepengecutannya mengakui kelalaian untuk kembali berlayar ke desa kecil dengan dermaga tua di seberang pulau, saat badai telah mereda. Tentang tak mampunya hati untuk kembali pulang setelah berpandang mata dengan gadis manis berhidung mancung , yang suaranya mengalun merdu melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an di pengajian malam.
Di halaman terakhir, yang ditulisnya sehari sebelum pergi, berurut beberapa kalimat, yang menggoreskan luka baru pada Nurani istrinya dan Mawar Merah, Kenanga Jingga dan Melati Biru anak-anak gadisnya.
"Kekasihku, Nurani, perempuan-perempuan bunga setamanku Mawar Merah, Kenanga Jingga dan Melati Biru, maafkan ayahandamu ini. Lelaki yang datang dari kabut, kembali kepada kabut. Datang berbekal segudang rahasia, pergi dengan segudang rahasia. Tapi kusadar cinta sulit berbagi, karenanya kutanggung dosa dan pedih sendiri tanpa membuat kalian luka tersayat pisau masa laluku ".
"Hanya pintaku, sampaikan sejumput berita pada Seruni dan Elang Muda, cinta mereka kubawa ke alam kubur. Maafkan daku, maafkan lelaki kecil yang tak mampu menjadi lelaki sebenarnya. Biarkan kabut yang selalu datang menjenguk tiap pagi di desa kecil kita, tetap membawa bisikan hati yang amat pedih".
---+++---
Perlahan kuminum kopi kental pahit di hadapanku dengan sendu. Pagi masih berbau pasir pantai dan bersuarakan ceriwis camar. Angin laut masih nakal menggoyang-goyangkan 3 kuntum mawar merah di jambangan bunga di meja sarapanku. Suara Elang Muda yang dalam dan lembut, masih mengisi ruangan yang begitu sepi. Ceritanya tentang ibunya, Seruni, perempuan tua yang dianggap gila oleh penduduk sedesa, masih berturutan keluar dari bibirnya yang dibingkai rahang yang begitu kokoh. Matanya masih dalam memandangiku lekat-lekat.
"Kamu mau kan mengenal ibuku. Dia lembut dan manis, pendiam dan masih tetap sanggup mengerjakan banyak tugas rumah tangga sehari-hari. Yang berbeda hanya sejak ayah pergi, dia menjadi sangat tertutup. Dia tidak gila, tidak seperti yang diucapkan para penduduk desa ini ".
Kutatap lagi matanya dan senyumnya. Begitu penuh makna, penuh rasa. Perempuan muda mana yang tak berdesir, dipandangi dan disenyumi seorang lelaki tampan dan gagah seperti Elang Muda. Lagipula kabarnya, sejak kepulangannya dari tugasnya dari hotel dengan jaringan yang sama di Madinah, dia makin dewasa dan makin tekun mendalami agama. Persis seperti kang Jaka, ayahnya. Sayang dia tidak tahu itu.
Sayang dia juga tidak tahu bahwa seharusnya sudah sejak hari-hari lalu aku menyampaikan berita. Bahwa seharusnya sejak hari-hari lalu, aku menemui ibunya, Seruni, dan menyampaikan cerita dari pulau di seberang dermaga tua. Bahwa seharusnyalah tak kubiarkan Elang Muda memandangi aku dengan kedalaman mata penuh makna dan senyum begitu pekat dengan rasa.
Tapi mengapa tak mampu bibir ini berucap cerita, tak mampu hati ini menguatkan diri berbagi kabar. Mengapa begitu lemah setiap kata kebenaran yang seharusnya keluar dari ujung lidah yang kelu dan kaku.
"Bagaimana , kamu mau menemui ibuku kan. Beliau pasti senang bertemu dengan gadis secantik dan seramah kamu, yang begitu sabar mendengar cerita-ceritaku yang membosankan 5 hari berturut-turut. Apalagi jarang ada gadis berjilbab seanggun kamu, berjalan-jalan sendiri di desa kecil ini. Mau ya ? ".
Angin laut masih nakal menggoyang-goyangkan 3 kuntum mawar merah di jambangan bunga di meja makanku ini. Bergoyang-goyang perlahan, persis seperti hatiku yang tergoncang. Mawarnya begitu merah, seperti namaku pilihan kang Jaka ayahku, Mawar Merah .
Ah, Elang Muda seandainya saja kau tahu, tak akan kau pandangi aku dengan kedalaman mata penuh makna dan senyum begitu pekat dengan rasa ………
Reston, Akhir Juni 2005.
